Kupas Tuntas Perkembangan antropologi Modern di Indonesia 

Dosen Pengampu : Serepina Tiur Meida S.Sos. M.PD. M.I.KomN

Nama Mahasiswa : KASTONO

NIM : 223300040025

UMT JAKARTA 

Arti Antropologi

Antropologi berasal dari dua akar kata Yunani:  Anthropos, artinya“orang” atau “manusia”; dan logos, artinya “ilmu/nalar”. Menurut kamus athropology dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, kepribadian, masyarakat, serta kebudayaannya

   

Dari analisis usul asal kata, disimpulkan bahwa :

Antropologi merupakan ilmu pengetahuan tentang manusia. Dalam refleksi yang lebih bebas, antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mencoba menelaah sifat-sifat manusia secara umum dan menempatkan manusia yang unik dalam sebuah lingkungan hidup yang lebih bermartabat.

Antropologi Kebudayaan

Corak kebudayaan manusia beraneka-ragam karena masing-masing kelompok masyarakat memiliki corak kebudayaannya sendiri-sendiri yang bersifat khas (unique). Namun, di samping keberagaman kebudayaan manusia (cultural differentiation), ditemui adanya unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal ~ dalam arti unsur-unsur tersebut selalu ditemui pada setiap kebudayaan kelompok masyarakat di dunia.
➢ Menurut Koentjaraningrat (1990) ada tujuh unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu: 

1. Bahasa  2. Sistem pengetahuan. 3. Organisasi sosial 4. Sistem peralatan hidup dan teknologi 5. Sistem mata-pencaharian hidup 6. Sistem religi 7. Kesenian 

➢ Beberapa sarjana antropologi lainnya mengidentifikasi unsur-unsur kebudayaan universal secara berbeda bila dibandingkan dengan versi Koentjaraningrat tersebut di atas, antara lain: 

1. Tata komunikasi (berupa suara dan tata pengucapan/kalimat) 
2. Klasifikasi [anggota masyarakat] berdasarkan usia dan jenis kelamin/gender    
3. Klasifikasi [anggota masyarakat] berdasarkan perkawinan, keturunan/kekerabatan    
4. Tata pengasuhan anak 
5. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin  6. Konsep privasi/pribadi   
7. Aturan perilaku seksual         
8. Pembedaan antara perilaku baik dan buruk    9. Perhiasan tubuh  
10. Bercanda dan permainan   
11. Berkesenian  
12. Kepemimpinan (dalam pengambilan keputusan masyarakat).
Tiga wujud kebudayaan
Seorang ahli antropologi yang bernama A. L. Kroeber menganjurkan untuk membedakan wujud dari kebudayaan, sebagai sebuah rangkaian dari tindakan dan aktivitas manusia. Ahli antropologi lainnya, yang bernama J. J. Honigmann membedakan terdapat 3 gejala kebudayaan, yaitu


a. Ideas
Wujud kebudayaan sebagai ide, gagasan, norma, nilai, dan sebagainya. Pada wujud pertama ini merupakan wujud yang ideal dari sebuah kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak dapat difoto, maupun disentuh, bertempat di dalam alam pikir masyarakat tempat kebudayaan itu berkembang. Para ahli menyebut hal ini dengan istilah sistem kebudayaan, sedangkan di Indonesia hal seperti dapat kita sebut dengan istilah adat istiadat.
b. Activities
Wujud kebudayaan sebagai tindakan dan aktivitas manusia berpola dalam masyarakat. Wujud kedua ini dapat kita artikan sebagai sebuah sistem sosial, yang terdiri dari aktivitas manusia yang melakukan interaksi dengan manusia lainnya, dilakukan dari hari ke hari, hingga berlalunya waktu. Sistem sosial ini memiliki sifat konkret, artinya dapat kita lihat sehari – hari di sekeliling kita, dapat diobservasi dan difoto.
c. Artifacts
Wujud kebudayaan sebagai benda – benda hasil karya manusia. Wujud ketiga dari kebudayaan juga dapat disebut sebagai kebudayaan fisik. Wujud ketiga ini merupakan semua hasil fisik dari aktivitas, dan pembuatan karya – karya oleh manusia dalam masyarakat. Bersifat sangat konkret karena terdapat benda – benda yang dapat disentuh, dilihat, difoto, dan diobservasi.
      Perlu dipahami oleh teman – teman, bahwa ketiga wujud kebudayaan yang sudah dijelaskan di atas, dalam kenyataannya sangat berkaitan dengan erat. Kebudayaan dan adat – istiadat yang ada di dalam masyarakat memberikan pikiran, ide, dan tindakan untuk menghasilkan benda – benda sebagai kebudayaan fisiknya. Sedangkan kebudayaan fisik membentuk lingkungan hidup manusia yang nantinya akan memberikan pengaruh terhadap pola perbuatan manusia, dan juga cara berfikirnya

Antropologi modern 

Antropologi modern meneruskan apa yang telah dimulai oleh strategi tradisional dari usaha antropologi pada masa-masa lampau.         Yang terasa sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan umumnya, ilmu antropologi berupaya untuk membangun sebagai Manusia dalam kajian ilmiah tentang manusia dalam bingkai kehidupan sosial. 

       Dengan membuat perbandingan antar sosialitas yang satu dengan yang lain. Perbandingan tersebut terutama berkenaan dengan pola menempatkan model sosialitas masa silam dengan yang sekarang, 

dan bahkan berkaitan dengan yang bakal terjadi (nanti).









Perkembangan Antropologi indonesia

Mengutip jurnal berjudul Perkembangan Antropologi Indonesia yang disusun oleh Afif Futaqi, antropologi di Indonesia diawali dengan berbagai macam metode penelitian.Umumnya, 

Perkembangan antropologi, baik di barat maupun di Indonesia saling berkaitan satu sama lain terhadap sejarah kolonialisme.
Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana tulisan-tulisan yang dibuat oleh para masyarakat di zaman itu.
Bahkan, para pegawai kolonial zaman dulu wajib menulis laporan karakter masyarakat dan daerah yang mereka ambil sumber daya alamnya di daerah jajahan Belanda, yang mana dari catatan-catatan itu diberi nama etnologi, sebuah penggambaran watak khas masyarakat Indonesia.

Masyarakat modern Indonesia
Seiring dengan perkembangan zaman masyarakat Indonesia mengikuti pola dan gaya hidup seperti di negara-negara maju dan negara barat, baik dilihat dari gaya hidup, pergaulan, budaya, kesenian, cara berpikir, alat yang digunakan baik itu komunikasi dan transportasi mengalami metamorfosis dan perubahan dari budaya lama menuju budaya modern.
     Hal ini bisa dilihat dari pola kehidupan anak muda di era millenium, di mana perkembangan teknologi yang modern mampu merubah budaya khas yang dimiliki Indonesia menuju budaya transisi negara-negara berkembang dan maju lainnya. Perkembangan tersebut tentu memiliki dampak yang positif dan negatif, maka bagi negara-negara yang memiliki khas budaya, harus mampu mempertahankan budaya dan kearifan lokal tanpa meninggalkan perkembangan kemajuan zaman, sehingga terjadi keseimbangan dan tetap memiliki ciri khas akan kultur budaya suatu negara khususnya negara Indonesia.

Langkah mempertahankan budaya & kearifan lokal
Menurut penulis langkah yang harus diambil dalam mempertahankan budaya dan kearifan lokal sebagai ciri khas bangsa Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Mempertahankan budaya dan kearifan lokal.
Sebagai bangsa timur Bangsa Indonesia hendaknya tetap mempertahankan khas budaya lokal sebagai ciri bangsa yang memiliki kebudayaan yang tinggi, melalui forum-forum budaya pemerintah haruslah memberi ruang dan waktu untuk tetap menampilkan kesenian-kesenian tradisional yang bersifat kedaerahan.
2. Memasukkan kurikulum budaya lokal ke dalam pendidikan formal.
Sebagai bangsa besar yang memiliki aneka ragam budaya kesenian bahasa haruslah senantiasa dipertahankan, pendidikan budaya dan kesenian harus ditanamkan sejak dini melalui forum pendidikan dan sekolah-sekolah dasar.
3.  Pemerintah berperan dalam mempertahankan budaya & kearifan lokal.
Selaku penyelenggara negara, pemerintah harus berperan aktif dalam membumikan budaya dan kesenian yang dimiliki Indonesia sebagai khazanah dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
   Melalui forum daerah, nasional & internasional, pemerintah harus memperkenalkan dan memberi ruang bagi budaya dan kesenian Indonesia, agar kesenian dan kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia tetap dicintai oleh bangsanya sendiri dan dikenal oleh bangsa internasional.


Referensi :
Serepina Tiur Maida, Materi Presentasi PPt ke-1 Brainstorming Antropologi. Pdf, 2023

-Leonardo. E.C 1989 Practicing Development Antropologhy, Boulder and London Westeview

- Jurnal Perkembangan Antropologi Indonesia oleh Afif Futaqi,

Komentar

  1. Jangan Lupa ☕Disajikan Sesuai Rasa😁 Salam sehat Dan Sukses Buat Kita Semua

    BalasHapus

Posting Komentar